Di kantor PT Santai Sejahtera, ada satu kebiasaan yang susah hilang: kasbon ke bagian keuangan setiap tanggal tua.
Setiap akhir bulan, antrean di depan Bu Rina, bendahara kantor, lebih panjang dari antrean tiket konser. Ada yang pinjam buat bayar kosan, ada yang buat traktir gebetan, dan ada juga yang sekadar bertahan hidup sampai gajian tiba.
Tapi, ada satu orang yang anti kasbon klub. Namanya Jono.
Hari itu, Rudi, teman sekantornya, heran. "Jon, kok lo nggak pernah kasbon sih? Gua liat lo tetap santai tiap tanggal tua. Lo anak konglomerat, ya?"
Jono terkekeh. "Konglomerat dari Hong Kong? Biasa aja, Bro. Cuma gua punya strategi jitu!"
"Strategi apa? Bagi-bagi lah!"
Dengan bangga, Jono mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi ShariaCoin.
"Gua punya tabungan emas di sini. Jadi kalau lagi butuh duit, tinggal gadai aja ke Gadai Syariah Indonesia. Cair cepat, tanpa riba, dan nggak bikin gengsi kayak kasbon!" katanya.
Rudi melongo. "Wah, lo keren juga! Berarti lo udah kaya sebelum gajian?"
Jono mengangguk. "Betul! Duit ngalir, harga diri aman, nggak perlu antre depan Bu Rina sambil pasang wajah memelas."
Tiba-tiba, Bu Rina yang sedang mendengar dari jauh berseru, "Jon! Ajarin sistem lo itu ke yang lain! Biar kantor ini bebas kasbon!"
Sejak saat itu, Jono resmi jadi mentor Anti Kasbon Klub.
Rudi pun mulai menabung emas, dan bulan berikutnya, dia juga merasakan nikmatnya bebas kasbon.
Sesuai dengan hadits:
"Sebaik-baik harta adalah emas dan perak yang disimpan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus meminta-minta." (HR. Bukhari)
Dan sejak itu, antrean kasbon di kantor pun berkurang drastis—kecuali Bu Rina yang tetap setia di meja, menikmati kopi tanpa pusing nagih utang!