Jakarta, 30/5/25. Alkisah, di sebuah kontrakan mewah yang lebih pantas disebut apartemen mini, hiduplah seorang remaja berhijab bernama Arni Nisa. Ia adalah putri tunggal dari keluarga terpandang yang tak pernah kekurangan apa pun. Sejak kecil, Arni terbiasa mendapatkan semua keinginannya. Termasuk akses tanpa batas ke Emas ShariaCoin, tabungan syariah yang dijanjikan akan membawa berkah melimpah. Konon, ini adalah bekal Arni untuk biaya kuliah di luar negeri.
Tapi, berkah itu rupanya tak semujur iklannya. Arni lebih sering melihat saldo ShariaCoin-nya menciut, bukan bertambah. Bukan karena fluktuasi harga emas, melainkan karena godaan dunia maya dan gemerlap kafe-kafe hipster. Game online, skin hero terbaru, voucher diskon kopi kekinian, semua itu terasa lebih menggiurkan daripada janji-janji masa depan yang muluk-muluk.
"ShariaCoin ini payah banget!" gerutu Arni suatu sore, saat ia sedang asyik "mabar" (main bareng) dengan teman-temannya. Layar ponselnya menampilkan notifikasi "Saldo Emas Anda Kurang". "Udah dibilang anti riba, berkah, apa segala macam. Nyatanya, cuma bikin boros doang! Harusnya kan bisa langsung jadi uang tunai kalau butuh mendadak, biar nggak ribet!"
Teman-temannya hanya tertawa. Mereka tahu, Arni memang punya kebiasaan menyalahkan keadaan saat sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Mungkin memang ShariaCoin ini investasi bodong kali ya? Apa jangan-jangan orang tuaku yang salah pilih investasi? Mereka cuma ngomongin berkah, berkah, tapi nggak ngajarin cara memakainya!" Arni terus mengomel, melemparkan kesalahan pada platform syariah dan bahkan pada orang tuanya sendiri. Ia merasa ShariaCoin ini adalah jebakan, sebuah alat yang disodorkan padanya tanpa instruksi yang jelas, membuatnya terjerumus dalam kemiskinan (versi Arni, tentu saja).
Titik Balik yang Tak Terduga
Suatu siang, saat Arni sedang terburu-buru menuju perpustakaan, ia tak sengaja menabrak seorang mahasiswi berjilbab sederhana, Siti. Buku-buku Siti berhamburan. Arni membantu membereskan buku-buku tersebut, dan pandangannya jatuh pada selembar kertas yang terlipat rapi. Itu adalah daftar pengeluaran bulanan Siti. Tercatat rapi pengeluaran untuk makan di warung tegal, transportasi umum, dan sisa uang yang sangat minim untuk kebutuhan lain. Tak ada kafe mewah, tak ada game online.
"Maaf ya, Kak," ujar Siti dengan senyum ramah. "Aku buru-buru, harus kerja paruh waktu habis ini. Biar bisa nabung buat semester depan."
Arni terdiam. Ia mengenal Siti sebagai mahasiswi berprestasi yang berasal dari keluarga sederhana. Setiap hari, Siti membawa bekal dari rumah, memilih jalur transportasi termurah, dan tak pernah terlihat menghamburkan uang untuk hiburan. Arni sering melihat Siti belajar hingga larut malam di perpustakaan, sementara ia sendiri sibuk "mabar" atau nongkrong di kafe.
Peristiwa kecil itu menampar Arni lebih keras dari ribuan notifikasi saldo ShariaCoin. Ia melihat Siti, yang dengan segala keterbatasannya, berjuang mati-matian agar bisa tetap kuliah. Sementara dirinya, dengan segala kemudahan yang ada, justru menyia-nyiakan kesempatan. "Astaghfirullah!" batinnya, menyadari betapa jauh ia menyimpang.
Momen Kegelapan dan Penyesalan
Malam harinya, saat ia sendirian di apartemen mewahnya, mendadak listrik padam. Gelap gulita menyelimuti Arni, hanya diterangi cahaya remang dari layar ponsel yang baterainya sekarat. Dalam keheningan itu, Arni mendadak teringat ucapan ibunya, "Nak, rezeki itu amanah, bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga dijaga dan diberkahi." Ia juga teringat akan wajah Siti yang penuh semangat.
Hati Arni tergelitik. Ia mulai berpikir. Game online, kafe, semua itu memang menyenangkan, tapi apa manfaat jangka panjangnya? Uang semesteran yang seharusnya jadi jembatan ke masa depan, kini terancam jadi kenangan pahit. Ia menyadari, bukan ShariaCoin atau orang tuanya yang patut disalahkan, melainkan dirinya sendiri. Dialah yang telah menyalahgunakan amanah itu.
Ia teringat firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 26-27:
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."
"Masya Allah," gumam Arni. Ayat itu seperti tamparan halus yang menohok jiwanya. Ia selama ini telah menjadi "saudara syaitan" karena pemborosannya. Ia juga teringat hadis riwayat Tirmidzi yang berbunyi:
"Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan."
Hadis ini semakin menguatkan niat taubatnya. Arni membayangkan bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan setiap keping ShariaCoin yang ia sia-siakan di hadapan Allah. Ia memutuskan untuk berhenti total dari kebiasaan buruknya. Game online dihapus, aplikasi kafe di-uninstal, dan ia mulai mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambal kekurangan uang semesterannya. Ia bahkan bertekad akan mengikuti jejak Siti, hidup lebih hemat dan bijaksana.
Jalan Taubat dan Kesadaran
Awalnya sulit. Godaan untuk membuka aplikasi game atau nongkrong di kafe selalu datang. Tapi setiap kali itu terjadi, Arni selalu mengingat ayat dan hadis tadi, serta wajah Siti yang pantang menyerah. Ia bertekad, tidak akan ada lagi Emas ShariaCoin yang berubah menjadi latte atau Diamond. Ia juga menelepon orang tuanya, meminta maaf atas segala kesalahannya dan berjanji akan lebih bertanggung jawab. Ia bahkan mulai bergaul lebih dekat dengan Siti, belajar darinya tentang manajemen keuangan dan kedisiplinan.
Berkat ketekunan dan kesabarannya, Arni berhasil mengumpulkan kembali uang semesterannya. Ia juga belajar banyak. Bahwa rezeki itu amanah, bukan hanya untuk dinikmati semata, melainkan juga untuk dijaga dan dimanfaatkan di jalan kebaikan. Dan yang terpenting, ia belajar bahwa taubat itu bukan hanya tentang berhenti berbuat dosa, tapi juga tentang memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar, tanpa menyalahkan pihak lain.
Sejak saat itu, Arni Nisa bukan hanya dikenal sebagai mahasiswi cerdas, tapi juga sebagai sosok yang bijaksana dalam mengelola harta. Emas ShariaCoin-nya kini tersimpan aman, bukan lagi untuk foya-foya, melainkan untuk masa depan yang lebih berkah.
Apakah kisah Arni ini menginspirasimu untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan?