Anggapan kalau Gen Z cenderung kesulitan buat mengatur keuangannya secara bijak bukanlah isapan jempol belaka. Setidaknya kondisi tersebut dibenarkan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi dalam pembukaan Indonesia Sharia Financial Olympiad 2024, yang disiarkan secara virtual sekitar akhir Juni.
Menurutnya ada tiga ‘virus’ yang menjangkiti Gen Z sebagai pemicunya, yakni FOMO, FOPO, dan YOLO.
Fear of missing out (FOMO)
Ini dia fenomena paling populer di kalangan Gen Z belakangan ini. Sederhananya, FOMO diartikan sebagai rasa takut akan ketinggalan sesuatu yang tengah hype. Cemasa gara-gara belum nongkrong di coffee shop yang lagi viral, contohnya, atau mendadak ikutan ticket war Coldplay padahal tahu 1-2 lagunya saja .
Namun tidak sebatas itu, awalnya FOMO dialami oleh pengguna social media yang melihat status update teman-temannya sedang hangout bareng tanpa dirinya. Dari situ terpiculah overthinking dan muncul pertanyaan seperti, “kok, aku nggak diajak, ya?” yang berujung kecemasan karena merasa dilupakan.
Fear of other people’s opinion (FOPO)
Arti dari FOPO sudah jelas, rasa takut terhadap opini atau perkataan orang lain tentang diri kita. Perkara ini sangat luas, namun kerap dikaitkan pula dengan tren terkini. Yakni, ketika seseorang merasa cemas akan pendapat orang lain lantaran tidak mengikuti hal-hal terbaru di lingkungan atau circle-nya. Contohnya takut dijulidin teman-teman kalau barang-barang yang dikenakan tidak kekinian.
You only live once (YOLO)
Prinsip yang pernah diembuskan oleh band-band rock ini mengajak, atau lebih tepatnya cenderung menjerumuskan, kepada kesenangan belaka. Ingin begini, ya lakukan; ingin beli itu, ya beli. Dengan alasan, karena hidup cuma sekali. YOLO pada dasarnya tidak jauh dari prinsip hedonistik, bukan?
“Ini membuat generasi Z enggak mau investasi karena semua yang dimiliki habis,” tutur Friderica.
Betul, kalau diperhatikan tiga fenomena tersebut dapat berdampak pada pengeluaran dengan alasan yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Nah, buat menanggulanginya, ShariaCoin membantu para Gen Z mengatur finansialnya, dalam hal ini dengan cara menabung, mencicil, dan berinvestasi emas melalui mobile app di ponsel, sesuai lifestyle Gen Z yang ingin serba mudah dan praktis.
Selain itu, ringan juga karena untuk melakukannya bahkan bisa dimulai dengan setoran awal Rp5.000 saja.