Setiap selesai salat Maghrib, Bu Siti selalu berdoa dengan kalimat yang sama.
"Ya Allah, izinkan saya dan suami berkunjung ke Baitullah."
Doa itu sudah dipanjatkan bertahun-tahun.
Namun setiap kali melihat biaya umrah yang semakin tinggi, ia merasa impian tersebut masih terlalu jauh.
Suatu hari saat berkunjung ke rumah tetangganya, Bu Siti bertanya.
"Bu, kok bisa ya akhirnya berangkat umrah?"
Tetangganya tersenyum.
"Saya tidak langsung punya uang puluhan juta. Saya mulai dari nabung sedikit demi sedikit."
"Sedikit bagaimana?"
"Saya sisihkan uang belanja yang masih sisa. Kadang Rp10.000, kadang Rp20.000. Saya simpan dalam bentuk emas."
Jawaban itu membuat Bu Siti berpikir.
Malam harinya ia berbicara dengan suaminya.
"Pak, bagaimana kalau kita mulai menabung untuk umrah?"
Suaminya tertawa kecil.
"Tabungan kita belum banyak."
"Justru karena belum banyak, kita harus mulai."
Sejak hari itu mereka mulai menyisihkan sebagian rezeki ke tabungan emas.
Saat mendapat bonus, mereka membeli sedikit emas.
Saat usaha sedang ramai, mereka menambah tabungan.
Saat kondisi sedang sulit, mereka tetap menyisihkan semampunya.
Lima tahun kemudian, jumlah yang terkumpul ternyata jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Suatu hari Bu Siti meneteskan air mata ketika menerima jadwal keberangkatan.
Suaminya bertanya pelan.
"Kenapa menangis?"
Bu Siti tersenyum.
"Saya baru sadar, perjalanan ke Tanah Suci ternyata dimulai dari uang belanja yang dulu saya sisihkan sedikit demi sedikit."
Karena sering kali impian besar tidak dimulai dari uang yang besar.
Melainkan dari niat yang dijaga dengan konsistensi.