Jakarta (17/04/2025) Pak Budi, seorang bapak paruh baya dengan perut sedikit membuncit dan rambut mulai menipis di bagian depan, adalah representasi sempurna dari pengguna mobil bensin garis keras. Baginya, suara gerungan mesin adalah alunan musik terindah, dan aroma knalpot adalah parfum maskulin alami. Setiap bulan, minimal lima juta rupiah melayang begitu saja untuk mengisi tangki si "Kebo Besi" kesayangannya.
"Ah, nikmatnya hidup ini," gumam Pak Budi suatu pagi sambil mengantre di SPBU, menyaksikan angka di dispenser bensin terus merangkak naik seperti cicilan KPR. "Yang penting gaya! Biar boros, yang penting gagah!"
Namun, takdir memang suka bermain-main dengan kebiasaan manusia. Suatu hari, kantor Pak Budi mengadakan program go green dengan memberikan subsidi kepemilikan mobil listrik bagi karyawan beruntung. Awalnya, Pak Budi mencibir. "Mobil kok nggak bersuara? Kayak naik setrikaan!" ejeknya kepada rekan-rekannya yang sudah lebih dulu beralih.
Tapi, namanya juga rezeki nomplok. Pak Budi termasuk salah satu karyawan yang mendapatkan subsidi. Dengan berat hati, dan sedikit paksaan dari sang istri yang sudah muak melihat bon bensin membengkak, Pak Budi akhirnya meminang sebuah mobil listrik berwarna gold yang elegan. Ia menamainya "Si Kinclong".
Minggu-minggu pertama bersama Si Kinclong terasa aneh bagi Pak Budi. Tidak ada lagi suara menderu saat pedal gas diinjak. Yang ada hanya desingan halus yang justru membuatnya merasa seperti sedang mengendarai vacuum cleaner raksasa mewah. Ia juga kerap kali reflek mencari tuas transmisi yang tentu saja tidak ada. Beberapa kali ia salah pencet tombol wiper karena panik, membuat kaca gold Si Kinclong jadi basah kuyup tanpa alasan.
Namun, keajaiban mulai terasa di akhir bulan. Biasanya, tagihan kartu kredit Pak Budi selalu dihiasi angka lima jutaan untuk bensin. Kali ini? Hanya satu juta! Itu pun tagihan listrik rumah yang sedikit meningkat karena ia mengisi daya Si Kinclong di garasi.
"Lho? Kok bisa begini?" Pak Budi melongo menatap angka di layar ponselnya. Ia mengulang-ulang perhitungan. Lima juta dikurangi satu juta? Empat juta rupiah SELISIH! Otaknya yang biasa dipenuhi kalkulasi biaya bensin mendadak blank.
Sang istri, Bu Rini, yang lebih aware dengan isu keuangan keluarga, langsung berseru kegirangan. "Tuh kan, Mas! Sudah kubilang, mobil listrik itu hemat! Apalagi yang warna gold ini kelihatan mahal, padahal justru bikin kita kaya! Sekarang uang empat juta itu mau diapakan?"
Pak Budi berpikir keras. Biasanya, uang "lebih" tak terduga seperti ini akan langsung habis untuk nongkrong di warung kopi bersama teman-temannya atau membeli aksesoris mobil yang tidak penting. Tapi kali ini, entah kenapa, ada bisikan halus di benaknya. Mungkin efek warna gold yang memberikan aura kemakmuran.
"Bagaimana kalau kita belikan emas, Bu?" usul Pak Budi tiba-tiba.
Bu Rini mengerutkan kening. "Emas? Tumben, Mas? Biasanya kamu lebih suka beli pelek mobil yang warnanya juga gold."
"Iya, Bu. Tapi saya lihat di internet, ada namanya ShariaCoin. Katanya tabungan emas digital yang sesuai prinsip syariah. Aman, mudah, dan bisa dicicil kecil-kecil." Pak Budi menjelaskan dengan antusias, seolah baru saja menemukan harta karun yang berkilauan seperti warna mobilnya.
Awalnya, Bu Rini ragu. Tapi setelah melihat penjelasan di website ShariaCoin dan mendengar testimoni positif dari teman-temarnya, ia pun setuju. Maka, setiap bulan, sisa uang belanja bensin Si Kebo Besi yang dulu boros, kini dialihkan untuk membeli gram demi gram emas digital di ShariaCoin.
Pak Budi yang dulunya "Sultan Bensin" mendadak bertransformasi menjadi "Sultan ShariaCoin". Ia jadi rajin memantau pergerakan harga emas, meskipun terkadang masih suka keceplosan menggerutu saat melihat harga bensin di pom bensin langganannya yang semakin mahal, sambil mengagumi warna gold mobilnya yang bebas dari bau bensin.
Suatu hari, teman-teman kantornya yang dulu mengejek Si Kinclong datang berkunjung ke rumah Pak Budi. Mereka terkejut melihat Pak Budi yang kini lebih hemat dan bahkan sudah mulai mengumpulkan pundi-pundi emas. Kilauan gold Si Kinclong di garasi seolah memancarkan aura kekayaan baru bagi pemiliknya.
"Wah, Bud! Sekarang kamu sudah jadi juragan emas ya? Mobilnya juga gold, makin kinclong aja hidupmu!" celetuk salah seorang temannya sambil melirik Si Kinclong yang terparkir rapi di garasi.
Pak Budi tertawa sambil mengelus perutnya yang kini terlihat sedikit lebih ramping. "Ini semua berkat Si Kinclong dan ShariaCoin. Dulu, uang lima juta cuma jadi asap knalpot. Sekarang, pelan-pelan jadi gunung emas yang juga gold!"
Sejak saat itu, banyak teman-teman Pak Budi yang ikut-ikutan beralih ke mobil listrik dan mulai melirik tabungan emas digital. Mereka menyadari, gaya hidup hemat dengan mobil berwarna gold ternyata bisa membawa berkah yang jauh lebih besar daripada sekadar gengsi dan aroma knalpot. Dan Pak Budi? Ia terus setia dengan Si Kinclong dan rajin menambah saldo ShariaCoin-nya, sesekali masih reflek mencari tuas transmisi saat mengendarai mobil gold-nya, sambil sesekali tersenyum mengingat masa-masa kejayaannya sebagai "Sultan Bensin" yang kini telah bertransformasi menjadi "Sultan ShariaCoin" yang lebih bijak dan go green, dengan sentuhan kemewahan warna gold.