Jakarta (2/4/25). Pak Bejo, pria paruh baya dengan koleksi uban yang makin artistik dan lingkar pinggang yang setia menemani sejak era televisi hitam-putih, mulai memasuki gerbang pra-pensiun dengan perasaan campur aduk antara semangat dan 'semaput'. Gambaran ideal masa tua—ngopi santai di teras sambil menghitung semut—sedikit terdistorsi oleh bayang-bayang inflasi yang larinya lebih kencang dari ayam dikejar pemilik warung pecel lele.
"Bu," keluhnya pada Bu Siti, istrinya yang sedang khusyuk menyaksikan adegan suami durhaka dikutuk jadi gagang pintu di sinetron favoritnya. "Tabungan pensiun kita ini rasanya kok kayak saldo pulsa tanggal tua ya? Cepat amat menguapnya."
Bu Siti, masih fokus pada layar kaca, menjawab, "Makanya, Bapak dibilangin nabung emas batangan di bawah dipan malah nggak mau. Katanya takut kecetit pas ngangkat."
Pak Bejo mendengus. Benar juga. Tapi kini, mengangkat dipan terasa lebih ringan daripada mengangkat beban pikiran soal biaya kopi di masa pensiun. Hingga datanglah sang keponakan milenial, Udin Jenggot Aerodinamis, membawa angin segar—atau mungkin angin topan teknologi.
"Pakde! Zaman now itu nabung emas nggak perlu bikin sakit pinggang!" seru Udin, memamerkan layar ponselnya yang penuh sidik jari. "Nih, ada ShariaCoin Emas Pensiun! Full digital, Pakde! Insya Allah syariah, nggak pakai ribet!"
Mata Pak Bejo langsung cling mendengar "emas" dan "syariah". Tapi langsung mengerut lagi mendengar "digital" dan "coin".
"Maksudmu piye, Din? Emasnya berbentuk aplikasi gitu? Nggak bisa digigit buat ngecek?" tanya Pak Bejo, mencoba memahami.
Udin nyengir. "Bukan gitu konsepnya, Pakde. Gampang kok. Pertama, Pakde top up dulu, isi saldo Rupiah ke aplikasinya. Kayak isi pulsa lah, tapi ini buat beli emas."
Pak Bejo manggut-manggut. "Terus?"
"Nah, kalau saldo udah ada, tinggal beli emasnya. Mulainya enteng banget, Pakde! Setoran awalnya cuma 0,1 gram emas aja! Nggak perlu nunggu punya duit segepok!" lanjut Udin bersemangat.
"0,1 gram?" Bu Siti yang tiba-tiba muncul dengan sepiring singkong rebus ikut nimbrung. "Itu seujung kuku doang, Din?"
"Betul, Bude! Tapi kan nabungnya bisa rutin. Nah, ini yang paling jos gandos," Udin mendekatkan ponselnya, menunjukkan grafik yang naik turun kayak perasaan ABG. "Tabungan emas pensiun di ShariaCoin ini bisa dapat bonus sampai 7% per tahun, Pakde, Bude!"
"Hah?! Tujuh persen?!" Pak Bejo hampir menyemburkan singkong rebusnya. "Itu lebih gede dari bunga deposito bank jadulku! Caranya gimana? Nggak pakai jin pesugihan digital kan?"
Udin tertawa. "Ya enggak lah, Pakde! Makanya ini syariah. Jadi, ShariaCoin ini kerjasama sama Gadai Syariah Indonesia. Emas-emas yang kita tabung itu nggak diem aja, tapi dikelola secara produktif sama mereka, sesuai prinsip syariah. Nah, hasil pengelolaannya itu yang jadi bonus buat kita."
"Oh," Pak Bejo mencoba mencerna. "Jadi emas saya itu nggak nganggur di HP, tapi disekolahin gitu sama pegadaian syariah biar pinter cari duit?"
"Ya... kurang lebih gitu analoginya, Pakde," Udin menggaruk jenggot tipisnya, sedikit bingung dengan analogi Pak Bejo tapi yang penting pesannya sampai. "Intinya, aman, syariah, dan ada potensi bonus!"
Singkat cerita, dengan Udin sebagai customer service dadakan (yang sering kebingungan menjawab pertanyaan Pak Bejo tentang "kalau HP-nya kena virus, emasnya ikut bersin nggak?"), Pak Bejo berhasil menginstal aplikasi, top up sejumlah uang, dan membeli 0,1 gram emas digital pertamanya.
Malam itu, Pak Bejo susah tidur. Bukan karena khawatir, tapi karena membayangkan bonus 7% itu. Setiap sepuluh menit, dia membuka aplikasi ShariaCoin di HP kentangnya yang butuh waktu loading setara merebus ketupat.
"Bu, lihat! Emasku masih 0,1 gram! Tapi nanti bisa jadi 0,107 gram setahun lagi!" serunya pada Bu Siti yang sudah berlayar ke alam mimpi.
"Iya, Pak. Nanti bisa buat beli bakwan satu," gumam Bu Siti lirih.
Di warung kopi esok paginya, Pak Bejo tak lupa pamer.
"Sekarang saya mainannya emas digital, Pak Broto! Ada bonusnya 7% setahun!" katanya sambil menunjukkan saldo 0,1 gramnya dengan bangga.
Pak Broto, sang pensiunan guru, manggut-manggut. "Oh, yang kerjasama sama Gadai Syariah itu ya? Kemarin saya juga baca iklannya. Katanya emasnya diproduktifkan."
Pak Kardi, si pedagang pasar, nyeletuk, "Wah, mantap itu, Jo! Jadi emasmu kerja rodi biar dapat bonus ya?"
Pak Bejo tertawa, kali ini lebih percaya diri. "Bukan kerja rodi, Pak Kardi. Diproduktifkan secara syariah!"
Seminggu kemudian, harga emas dunia sedikit goyang. Pak Bejo membuka aplikasinya dengan sedikit deg-degan. Nilai rupiah investasinya turun beberapa ribu.
"Waduh, Bu! Emasku nilainya turun! Katanya ada bonus 7%, kok ini malah minus?" serunya, sedikit panik.
Bu Siti mendekat sambil membawa kemoceng. "Bapak ini gimana toh. Itu kan potensi bonusnya, Pak, dan itu dihitung tahunan. Kalau harga emasnya pas turun ya nilai rupiahnya ikut turun sementara. Yang penting kan gram emasnya tetap 0,1, nggak berubah jadi debu digital. Lagian, ini buat pensiun, jangka panjang. Sabar."
Pak Bejo merenung. Benar juga kata Bu Siti. Nabung itu soal konsistensi dan kesabaran, bukan sulap semalam. Bonus 7% itu ibarat pemanis, tapi pondasinya tetap pada nilai emas itu sendiri dan kedisiplinannya menabung.
Sejak itu, Pak Bejo lebih bijak. Dia tetap rutin top up dan menambah gram demi gram emas digitalnya, sambil membayangkan kopi pensiunnya nanti akan terasa lebih manis dengan tambahan bonus dari emasnya yang "disekolahkan" oleh Gadai Syariah.
"Yang penting halal dan berkah ya, Bu," kata Pak Bejo suatu sore.
"Betul, Pak. Dan semoga nanti pas dicairkan, bonusnya nggak dalam bentuk voucher kopi digital," canda Bu Siti.
Pak Bejo tergelak. Setidaknya, kini dia punya harapan pensiun yang sedikit lebih berkilau, walau kilauannya hanya terlihat di layar HP jadulnya. Dan yang pasti, punggungnya aman dari ancaman kecetit akibat mengangkat dipan.