Pantang Goyang, Emas Jadi Pilihan Strategis Buat Melindungi Aset dari Goncangan

Pantang Goyang, Emas Jadi Pilihan Strategis Buat Melindungi Aset dari Goncangan

(Jakarta, 26/08/2024) Ada kabar gembira, nih, dalam beberapa tahun terakhir ini investor retail di Indonesia jumlahnya mengalami peningkatan. Menurut data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2024, ada lebih dari 13,3 juta investor ritel (individu) dari total sekitar 13,35 juta investor pasar modal di Indonesia, meningkat dari Juni 2024 yang mencapai lebih dari 13,03 juta investor individu.


Ditambah lagi, jumlah investor ritel tersebut didominasi oleh kalangan muda berusia maksimal 40 tahun, yaitu sebanyak 79,38 persen dari total keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah cukup aware terhadap investasi.

Namun sinyal positif ini tidaklah cukup jika tidak dibarengi kesadaran, atau pengetahuan, dari investor mengenai strategi melindungi aset investasinya dari risiko penurunan nilai akibat goncangan pasar. Bisa jadi, Anda salah satunya. 

“Amat disayangkan, dong, kalau nilai investasi kita sampai menurun padahal ada cara buat melindunginya dari risiko tersebut, yaitu dengan melakukan diversifikasi investasi,” tutur Cahya, GM Bisnis dan Keuangan ShariaCoin.

Seperti dijelaskannya, diversifikasi investasi merupakan strategi meragamkan produk investasi yang kita miliki, untuk meminimalkan atau bahkan terhindar dari risiko. Simplenya, diversifikasi berarti tidak meletakkan dana dalam satu keranjang saja, misalnya cuma di pasar modal, melainkan dalam beberapa keranjang.

Emas murni, disebut-sebut sebagai instrumen investasi paling aman, maka sangat cocok pula dijadikan instrumen untuk diversifikasi. Sebutan “safe haven” melekat pada emas mengingat pada dasarnya nilai emas meningkat stabil dari waktu ke waktu, dan melebihi inflasi sehingga sanggup melindungi nilai harta kita.

Bahkan di tengah ketidakstabilan dan ketidakpastian ekonomi global, emas tetap tegar. Sebab, harga emas mampu merespons kondisi ekonomi secara berbeda dibanding instrumen investasi yang lain semacam saham atau surat-surat berharga lainnya.

Contohnya, saat pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia pada 2020, kondisi perekonomian global dilanda ketidakpastian akibat banyak perusahaan yang terpaksa gulung tikar dan pekerja terkena PHK. Di tengah situasi seperti ini, langkah paling logis bagi para investor adalah mengalihkan investasinya ke emas, karena paling aman. Nah, dengan meningkatnya permintaan akan emas, makin banyaknya orang yang membeli emas, sangat masuk akal di tengah pandemi saat itu nilai emas meroket.

Begitu pula yang terjadi belum lama ini. Di tengah kontraksi perekonomian akibat konflik yang memanas di Timur Tengah, saat bulan Ramadan yang lalu nilai emas meningkat drastis dalam waktu singkat.

Track record yang mengilap di tengah kondisi perekonomian yang sedang tidak ideal tersebut, menambah panjang bukti sahih emas sebagai pilihan cerdas bagi diversifikasi investasi.

“Umumnya diversifikasi investasi dengan emas yang ideal adalah 5-10 persen dari total portofolio,” saran Cahya. “Jumlah tersebut selain berpotensi menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang, sekaligus melindungi aset kita yang lain.”

Diawasi, Terdaftar, dan Tersertifikasi

BAPPEBTI - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Terdaftar BAPPEBTI
ICDX - Indonesia Commodity and Derivatives Exchange Member ICDX
ISO 27001:2022 Certified ISO 27001:2022
Terdaftar PSE Kominfo Terdaftar PSE
Butuh bantuan?