Sayur Segar dan Emas Digital Berkah
Jakarta, 8/5/2025. Setiap subuh, suara klakson sepeda motor Pak Rojak memecah keheningan komplek. Dengan bakul penuh sayuran segar, ia menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, ditemani senyum lebar dan sapaan hangat. Pak Rojak orangnya sederhana, namun hatinya mulia. Setiap Idul Adha tiba, ia selalu merasa terenyuh melihat tetangga berkurban, sementara dirinya belum mampu.
Suatu siang, di bawah rindangnya pohon mangga tempat ia beristirahat, Pak Rojak berbincang dengan seorang ibu muda yang baru pindah ke komplek. Ibu itu bercerita tentang kemudahan menabung emas digital melalui ShariaCoin. "Pak Rojak, coba deh. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Harganya juga cenderung naik," ujarnya sambil menunjukkan aplikasi di ponselnya.
Terinspirasi, Pak Rojak mulai menyisihkan sebagian kecil keuntungannya setiap hari. Dengan bantuan anaknya yang melek teknologi, ia membuka akun ShariaCoin dan rutin mentransfer rupiah yang ia dapat ke dalam bentuk gram emas digital. Awalnya canggung, ia beberapa kali salah memasukkan nominal, membuat sang anak tertawa geli. "Pelan-pelan, Pak. Yang penting istiqomah," nasihat anaknya.
Waktu berlalu, tanpa terasa tabungan emas digital Pak Rojak terus bertambah. Ia sesekali membuka aplikasi, melihat grafiknya yang perlahan menanjak. Ada rasa bangga dan harapan yang tumbuh di hatinya. Namun, ia tak pernah terpikir untuk menggunakan tabungannya selain untuk impian berqurban.
Menjelang Idul Adha tahun berikutnya, harga emas digital Pak Rojak melonjak signifikan. Ia terkejut sekaligus bahagia. Jumlah gram emasnya kini cukup untuk membeli seekor sapi! Matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah ya Allah," bisiknya lirih.
Namun, muncul dilema. Harga sapi kurban juga ikut naik. Uang dari hasil berjualan sayur belum cukup untuk menutupi kekurangannya. Pak Rojak mulai gelisah. Ia bolak-balik melihat saldo emas digitalnya dan uang tunai di dompetnya.
Suatu sore, saat Pak Rojak sedang menimbang sawi pesanan pelanggannya, ia mendengar percakapan ibu-ibu tentang sulitnya mencari hewan kurban tahun ini karena harga yang mahal. Hati Pak Rojak tergerak. Ia teringat impiannya dan juga kesulitan sesama.
Malam harinya, Pak Rojak bermimpi didatangi almarhum ayahnya. "Nak, rezeki itu bukan cuma soal materi. Berbagi itu melipatgandakan berkah," pesan ayahnya dalam mimpi.
Keesokan paginya, dengan tekad bulat, Pak Rojak menghubungi panitia kurban di masjid komplek. Ia menyampaikan niatnya untuk membeli sapi kurban dari tabungan emas digitalnya, meskipun ia harus menambah sedikit dari hasil jualannya. Panitia masjid terkejut dan terharu mendengar cerita perjuangan Pak Rojak.
Hari raya Idul Adha tiba. Sapi kurban Pak Rojak menjadi salah satu yang terbesar di komplek. Warga berbondong-bondong melihatnya, takjub dengan kegigihan tukang sayur sederhana yang mampu mewujudkan impiannya melalui tabungan emas digital. Pak Rojak tersenyum bahagia saat melihat sapi kurbannya disembelih. Ia merasa jauh lebih kaya dari sebelumnya, bukan hanya karena emas digitalnya, tapi juga karena kebahagiaan bisa berbagi dan menjalankan sunnah.
Setelah pembagian daging kurban selesai, seorang ibu menghampiri Pak Rojak dengan mata berkaca-kaca. "Pak Rojak, daging kurban dari Bapak sangat berarti bagi keluarga kami. Terima kasih banyak," ucapnya tulus.
Pak Rojak hanya tersenyum. Ia mengerti sekarang, berkah emas digitalnya bukan hanya terletak pada nilainya, tapi juga pada kebaikan yang bisa ia sebarkan. Sayur segar yang ia jual setiap hari kini terasa semakin berkah, mengantarkannya pada kurban yang penuh makna.