Hari itu, Dito berdiri di depan kantin sekolah dengan wajah sumringah. Sejak pemerintah meluncurkan program makan bergizi gratis bagi siswa, hidupnya terasa lebih ringan. Tangannya merogoh saku celana, menemukan selembar uang lima ribuan yang kini tak perlu dipakai untuk makan siang.
"Gokil, makan gratis tiap hari! Uang jajanku jadi utuh!" seru Dito penuh semangat.
Lalu, sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. "Kalau uang jajanku nggak kepake buat makan, kenapa nggak aku tabung ke emas digital aja? Bebas inflasi, makin lama makin untung!"
Dito langsung membuka aplikasi ShariaCoin, mendaftarkan diri, dan mentransfer lima ribu ke tabungan emas digitalnya. Dalam hitungan detik, ia mendapatkan notifikasi bahwa saldo emasnya bertambah.
Keesokan harinya, Dito membawa kabar ini ke teman-temannya. "Gila, men! Kita bisa makan enak gratis dari pemerintah, terus uang jajan tetap utuh buat nabung emas di ShariaCoin. Nggak ada ruginya sama sekali!"
Dalam waktu seminggu, kantin sekolah mendadak ramai dengan obrolan tentang investasi emas digital. Murid-murid yang biasanya boros mulai berpikir panjang. Mereka sadar, dengan menabung emas, mereka punya simpanan yang aman dari inflasi.
Namun, masalah datang ketika pemilik warung kecil di sekitar sekolah mulai sepi pelanggan.
"Anak-anak sekarang makin hemat, nggak jajan lagi di sini," keluhnya.
Dito, yang sudah kenyang dan makin kaya tabungan emasnya, hanya tersenyum. "Pak, ini bukan soal hemat doang. Ini soal cerdas! Makan gratis dari pemerintah kita manfaatkan, uang jajan kita tabung emas. Masa depan kita aman, Pak!"
Tapi Dito bukan tipe orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia mendapat ide lain. "Pak, kenapa warung ini nggak ikut untung juga? Kalau Bapak buka layanan pembukaan rekening emas digital, bisa dapat cuan tambahan! Nanti setiap anak yang nabung emas lewat warung Bapak, dapat bonus kecil dari ShariaCoin."
Mata pemilik warung berbinar. "Wah, bisa gitu? Lumayan buat tambahan pemasukan!"
Tak butuh waktu lama, warung kecil di sekitar sekolah mulai menerima pendaftaran rekening emas digital. Murid-murid makin semangat menabung, dan pemilik warung pun kembali tersenyum karena dagangannya tetap laris dari hasil promosi sambil membantu membuka rekening emas.
Sejak hari itu, Dito mendapat julukan "Sultan Emas Digital". Bukan karena kaya raya, tapi karena cerdik menyiasati uang jajan. Kini, perut kenyang, tabungan emas makin gemuk, warung kecil tetap hidup, dan inflasi? Ah, itu urusan orang lain!