Di sebuah kampung kecil bernama Kampung Rezeki Berkah, hiduplah seorang pria bernama Joni. Joni bukan orang kaya, tapi entah kenapa setiap kali ada uang lebih, dia suka beli emas. Kata orang, emas itu investasi, tapi bagi Joni, emas itu keren.
"Bro, emas itu seperti jimat sakti! Kalau butuh duit, tinggal jual," kata Joni suatu hari kepada sahabatnya, Ujang, sambil memamerkan koleksi cincin dan kalung emasnya.
Ujang hanya geleng-geleng kepala. "Jon, emas lo udah banyak banget. Udah zakatin belum?"
Joni menatap Ujang seolah-olah sahabatnya baru saja bicara dalam bahasa alien. "Zakat? Yang bener aja, Jang. Kan ini koleksi pribadi, bukan usaha!"
Ujang menepuk dahi. "Joni, lo udah tahu belum kalau emas yang sudah mencapai nisab itu wajib dizakati?"
"Nisab apaan?" Joni mulai merasa ada yang tidak beres dengan percakapan ini.
Ujang menghela napas panjang, lalu menjelaskan, "Nisab emas itu 85 gram. Kalau emas lo udah lebih dari itu dan disimpan selama setahun, lo wajib bayar zakatnya 2,5%."
Joni menelan ludah. Matanya melirik ke arah kotak perhiasan yang penuh berkilauan. Ia bergegas mengambil timbangan dapurnya dan mulai menimbang satu per satu koleksi emasnya. Hasil akhirnya? 120 gram!
Wajah Joni langsung pucat. "Astaghfirullah, Ujang! Ini udah lebih dari nisab! Gue udah wajib bayar zakat dari dulu!"
Ujang tertawa sambil menepuk bahu Joni. "Nah, gitu dong sadar. Yuk, segera dikeluarkan zakatnya, biar berkah!"
Joni masih memeluk kotak emasnya dengan ekspresi horor. "Tapi, Jang... ini investasi masa depan gue! Dompet gue bakal menangis!"
Ujang tertawa lebih keras. "Justru kalau lo zakatin, harta lo makin berkah dan berkembang, Jon. Lo mau harta lo kayak bunga mekar atau kayak nasi basi?"
Joni berpikir keras. Akhirnya, dengan berat hati—dan dompet yang menangis—dia mengeluarkan zakat emasnya.
Saat menyerahkan zakatnya, Joni teringat sabda Rasulullah ﷺ:
"Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tetapi bertambah…" (HR. Muslim, No. 2588)
Beberapa minggu kemudian, usahanya yang sempat lesu malah laris manis!
"Jang! Lo bener! Setelah gue bayar zakat, rezeki gue ngalir deras!" seru Joni girang.
Ujang tersenyum sambil mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…" (QS. At-Taubah: 103)
Joni kini punya kebiasaan baru: menimbang emasnya setiap tahun dan memastikan zakatnya selalu terbayar. Dan dompetnya? Ah, sudah tak menangis lagi—malah tertawa bahagia!
TAMAT. 😆