Di sebuah rumah sederhana, hiduplah keluarga Pak Bambang dan Bu Siti dengan ketiga anak mereka, Budi, Ani, dan Caca. Saat bulan Ramadan tiba, ketiga anak itu sangat antusias menyambut datangnya THR.
"Yeay, THR! Bisa beli mainan baru!" seru Budi dengan mata berbinar.
"Aku mau beli tas baru buat sekolah," timpal Ani dengan semangat.
"Aku mau beli es krim sebanyak-banyaknya!" sahut Caca dengan polosnya.
Bu Siti tersenyum melihat kebahagiaan anak-anaknya. Ia tahu, uang THR itu sangat berarti bagi mereka. Namun, sebagai ibu yang bijak, ia juga memikirkan masa depan pendidikan anak-anaknya.
"Anak-anakku sayang, uang THR ini memang rezeki dari Allah. Tapi, bagaimana kalau sebagian kita tabung untuk biaya sekolah kalian nanti?" kata Bu Siti dengan lembut, mengingat firman Allah dalam surat Yusuf ayat 47-49 yang mengajarkan tentang pentingnya merencanakan masa depan.
"Tabung? Kok gitu, Bu?" tanya Budi dengan wajah kecewa.
"Iya, Bu. Kan mau beli mainan," tambah Ani dengan nada sedih.
"Es krimnya gimana, Bu?" rengek Caca.
Bu Siti pun menjelaskan kepada anak-anaknya tentang pentingnya menabung untuk pendidikan, karena Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu. Ia juga memperkenalkan ShariaCoin, tabungan emas pendidikan yang bisa dimulai dengan setoran awal 0,1 gram saja dan bisa ditambah sewaktu-waktu tanpa beban.
"Emas? Kok emas, Bu? Kan mau uang," kata Budi bingung.
"Iya, emas itu kan mahal," tambah Ani.
"Es krim rasa emas ada, Bu?" tanya Caca polos.
Bu Siti tertawa mendengar pertanyaan polos anak-anaknya. Ia pun menjelaskan bahwa emas adalah investasi yang aman dan nilainya cenderung naik dari waktu ke waktu, serta sesuai dengan prinsip-prinsip muamalah dalam Islam. Dengan ShariaCoin, mereka bisa menabung emas sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah di masa depan.
Setelah mendengar penjelasan Bu Siti, ketiga anak itu pun akhirnya setuju untuk menyisihkan sebagian uang THR mereka ke ShariaCoin. Mereka membayangkan betapa kerennya jika nanti bisa sekolah dengan biaya dari tabungan emas mereka sendiri.
"Wah, nanti aku bisa jadi dokter emas!" seru Budi dengan semangat.
"Aku mau jadi guru emas!" timpal Ani dengan antusias.
"Aku mau jadi penjual es krim emas!" sahut Caca dengan polosnya.
Pak Bambang yang sedari tadi menyimak percakapan mereka pun tersenyum bangga. Ia senang melihat istri dan anak-anaknya memiliki kesadaran akan pentingnya menabung untuk pendidikan.
"Benar kata Ibu kalian, anak-anak. Menabung emas untuk pendidikan adalah investasi yang cerdas. Dengan ShariaCoin, yang menggunakan konsep wadiah, kita bisa mewujudkan impian kalian untuk meraih pendidikan yang tinggi," kata Pak Bambang dengan penuh semangat.
Sejak saat itu, keluarga Pak Bambang rutin menabung emas di ShariaCoin. Setiap kali ada rezeki lebih, mereka selalu menyisihkannya untuk menambah tabungan emas pendidikan anak-anak mereka. Mereka yakin, dengan ShariaCoin, masa depan pendidikan anak-anak mereka akan cerah dan gemilang, insya Allah.