Hamidah pernah berada di fase hidup yang serius: fase merasa sudah mapan karena punya emas fisik. Bukan satu gram. Bukan dua. Tapi cukup untuk bikin dia sering buka laci sambil senyum sendiri.
Masalahnya, Hamidah terlalu percaya diri soal penyimpanan.
Emas itu disimpan di mana?
Di kotak perhiasan plastik warna pink, satu paket dengan anting imitasi, peniti, dan… balsem harimau.
“Kan emas nggak karatan,” pikir Hamidah waktu itu.
Beberapa bulan kemudian, saat butuh dana darurat, Hamidah membuka kotak itu dengan penuh harap. Senyumnya langsung menghilang.
Permukaan emasnya kusam, ada baret halus, dan entah kenapa baunya agak… balsem.
Hamidah panik.
Digosok pakai tisu—makin baret.
Dicuci air—makin panik.
Ditanya ke temannya—jawabannya kompak:
“Loh, siapa suruh nyimpan emas kayak nyimpan jepit rambut?”
Sejak hari itu, Hamidah resmi trauma emas fisik.
Bukan trauma harganya turun.
Bukan trauma dicuri.
Tapi trauma… salah nyimpan.
Sekarang Hamidah berubah. Ia tak lagi membuka laci, tapi membuka aplikasi.
Tak lagi khawatir baret, kusam, atau bau balsem.
Emasnya aman, rapi, tercatat, dan bisa dicek sambil rebahan.
“Buat aku,” kata Hamidah bijak,
“emas itu bukan soal dipegang, tapi soal tenang.”
Sejak itu, Hamidah memilih emas digital ShariaCoin.
Bukan karena nggak cinta emas fisik—
tapi karena ia sudah cukup belajar bahwa tidak semua orang cocok jadi penjaga brankas.
Dan Hamidah?
Sekarang tidurnya nyenyak.
Tanpa laci. Tanpa balsem. Tanpa trauma.