Gelembung AI Mulai Pecah, Saatnya Emas Bersinar Lagi?

30 Jul 2026
Gelembung AI Mulai Pecah, Saatnya Emas Bersinar Lagi?

Selama beberapa tahun terakhir, dana investasi dunia mengalir deras ke saham-saham Artificial Intelligence (AI). Namun kini, sebagian analis mulai melihat tanda-tanda bahwa euforia tersebut mulai mereda.

Menurut Fred Hickey, pendiri The High-Tech Strategist, jika gelembung AI benar-benar pecah, maka emas berpotensi memasuki fase kenaikan berikutnya karena investor akan kembali mencari aset yang memiliki nilai riil.

📉 Apa yang terjadi?

Awal tahun 2026, harga emas sempat mencetak rekor sekitar US$5.600 per troy ounce.

Kemudian harga terkoreksi hingga sempat turun di bawah US$4.000 per ounce, atau sekitar:

  1. US$5.600/oz ≈ Rp2,95 juta per gram
  2. US$4.000/oz ≈ Rp2,11 juta per gram

(Konversi menggunakan kurs sekitar Rp17.250/USD.)

Menariknya, menurut Hickey, setiap kali harga mendekati US$4.000/oz, permintaan emas fisik dari Asia—terutama China—langsung meningkat sehingga harga kembali bertahan di atas level tersebut.

📊 Mengapa emas dinilai masih kuat?

Beberapa faktor yang masih mendukung tren jangka panjang emas antara lain:

✅ Bank sentral dunia masih membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun.

✅ Tren de-dolarisasi masih berlangsung di banyak negara.

✅ Kekhawatiran terhadap utang pemerintah dan kondisi geopolitik belum mereda.

✅ Arus keluar dana dari ETF emas mulai berhenti, sementara posisi spekulatif di pasar berjangka sudah turun ke level terendah dalam beberapa tahun.

🤖 Lalu bagaimana dengan AI?

Hickey menilai valuasi perusahaan AI sudah terlalu tinggi dibandingkan manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Ia melihat beberapa tanda mulai muncul, seperti:

  1. Kinerja saham teknologi besar mulai melemah.
  2. Biaya pembangunan pusat data AI terus membengkak.
  3. Model AI murah dari China mulai menekan harga layanan AI global.
  4. Return on Investment (ROI) industri AI dinilai belum sebanding dengan investasi ratusan miliar dolar yang telah dikeluarkan.

💡 Pelajaran bagi investor

Sejarah menunjukkan bahwa ketika satu sektor investasi mengalami euforia berlebihan, dana investor biasanya akan berpindah ke aset yang dinilai lebih aman dan memiliki nilai intrinsik.

Bagi investor emas, koreksi harga sering kali menjadi kesempatan untuk melakukan akumulasi secara bertahap, bukan alasan untuk panik.

Karena pada akhirnya, emas bukan hanya mengejar kenaikan harga, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga nilai kekayaan (store of value) ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.

Sumber: Kitco News – "AI bubble's burst could ignite gold's next bull leg as investors search for value" (30 Juli 2026).