Harga perak di Shanghai ternyata bisa jauh lebih mahal dibandingkan harga di pasar London dan New York. Pada akhir Agustus 2026, harga acuan perak di Shanghai Gold Exchange berada di sekitar US$75,16 per troy ounce, sementara harga di pasar London dan New York sekitar US$66,44.
Artinya, terdapat selisih sekitar US$8,72 per ounce.
Sekilas, kondisi ini terlihat seperti tanda bahwa permintaan perak di China sedang sangat kuat. Namun, persoalannya ternyata lebih kompleks. Pajak, aturan impor, lisensi, serta arus perdagangan fisik perak turut membuat harga di Shanghai bertahan lebih tinggi.
China Justru Banyak Mengekspor Perak
Ada fakta menarik di balik tingginya harga perak di Shanghai.
China tercatat mengekspor sekitar 162 juta ounce perak pada 2025, sementara impor bullion peraknya relatif kecil. Berdasarkan data yang dikutip Kitco dari World Silver Survey 2026, impor bullion yang benar-benar berasal dari luar China daratan hanya sekitar 7,6 juta ounce.
Dengan kata lain, arus perak justru lebih banyak bergerak keluar daripada masuk.
Biasanya, apabila harga sebuah komoditas lebih tinggi di suatu negara, pedagang akan membeli dari pasar yang lebih murah dan menjualnya di pasar yang lebih mahal. Aktivitas arbitrase kemudian akan membuat selisih harga mengecil.
Pajak Membuat Arbitrase Tidak Semudah Itu
Salah satu penyebab utamanya adalah struktur pajak dan aturan perdagangan.
Menurut analisis Kitco, membawa bullion perak yang sudah dimurnikan masuk ke pasar domestik China dapat dikenakan pajak. Sementara itu, skema tertentu untuk mengimpor konsentrat, kemudian memurnikannya dan mengekspor kembali hasilnya, mendapatkan perlakuan berbeda.
Akibatnya, terdapat insentif ekonomi untuk memproses dan mengekspor perak, tetapi tidak selalu menguntungkan untuk membawa bullion dari luar negeri masuk ke pasar domestik China.
Jadi, harga perak Shanghai yang lebih tinggi tidak otomatis berarti China sedang mengalami kekurangan perak secara absolut.
Stok Perak di Shanghai Terus Menurun
Meski demikian, bukan berarti tidak ada persoalan pada pasokan fisik.
Data yang dikutip Kitco menunjukkan bahwa persediaan gabungan di Shanghai Gold Exchange dan Shanghai Futures Exchange turun sekitar 37,3 juta ounce sepanjang 2025, menjadi sekitar 47,1 juta ounce.
Persediaan tersebut berada pada level terendah dalam sekitar satu dekade.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar fisik perak China memang mengalami penyusutan persediaan. Namun, penurunan stok tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa permintaan domestik China sedang melonjak.
- Pasokan domestik dapat semakin ketat karena perak mengalir keluar negeri.
- Permintaan industri China juga dapat menyerap sebagian pasokan yang tersedia.
Kedua faktor tersebut berpotensi mendukung harga perak dalam jangka menengah.
India Juga Mengalami Hambatan Impor
Fenomena serupa, meskipun dengan mekanisme berbeda, terjadi di India.
Menurut artikel Kitco, India menaikkan bea impor bullion dari 6% menjadi 15% dan kemudian menerapkan pembatasan lisensi terhadap silver bar dengan kemurnian tertentu.
Dampaknya cukup besar. Impor perak India pada Mei 2026 turun sekitar 91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan satu hal penting bagi investor: harga komoditas global tidak hanya ditentukan oleh produksi dan konsumsi.
Apa Artinya bagi Investor Perak?
Bagi investor, fenomena Shanghai memberikan pelajaran penting.
Ketika melihat berita bahwa harga perak di China lebih mahal US$8, kita tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa dunia sedang mengalami kelangkaan perak.
Kita perlu melihat harga dibandingkan dengan apa, di pasar mana, menggunakan basis pajak apa, dan apakah barang tersebut benar-benar dapat dipindahkan secara ekonomis dari satu pasar ke pasar lainnya.
Inilah yang disebut sebagai market fragmentation, atau terfragmentasinya pasar. Satu ounce perak secara teori adalah komoditas yang sama. Namun, harga aktual yang harus dibayar investor dapat berbeda karena adanya hambatan perdagangan dan karakteristik masing-masing pasar.
Bagaimana dengan Emas?
Fenomena tersebut juga relevan untuk memahami pasar emas.
Emas merupakan aset global, tetapi harga emas yang dibayar investor pada akhirnya tidak hanya dipengaruhi oleh harga spot dunia.
Ada faktor kurs, premium produk, pajak, bentuk emas, lokasi penyimpanan, hingga biaya pencetakan dan pengiriman.
Karena itu, investor perlu membedakan antara harga komoditas global dan harga emas yang benar-benar dapat dibeli atau dimiliki secara fisik.
Bagi investor Indonesia, akses terhadap kepemilikan emas menjadi salah satu faktor yang tidak kalah penting dari sekadar melihat grafik harga.
EmasDigital.ID menawarkan kepemilikan emas berbasis emas fisik yang dapat dimulai dari 0,01 gram. Saldo emas juga dapat dijual kembali atau dicetak menjadi emas fisik sesuai ketentuan yang berlaku.
Pendekatan ini memberikan perspektif berbeda dalam investasi emas. Investor tidak harus selalu membeli emas batangan dalam denominasi besar. Kepemilikan dapat dibangun secara bertahap sesuai kemampuan, kemudian dikelola berdasarkan kebutuhan dan tujuan investasi.
Jangan Hanya Melihat Angka Harga
Kasus perak di Shanghai mengingatkan kita bahwa membaca pasar logam mulia membutuhkan konteks.
Selisih harga US$8 per ounce memang terlihat besar. Tetapi angka tersebut harus dibaca bersama struktur pajak, aturan impor, arus ekspor, persediaan fisik, serta kondisi pasar domestik.
Hal yang sama berlaku ketika kita melihat harga emas.
Harga adalah angka. Tetapi memahami mengapa harga terbentuk adalah bagian yang jauh lebih penting dalam mengambil keputusan investasi.
Sumber: Artikel ini diolah dari analisis Przemyslaw Radomski, CFA, “Why silver costs $8 more in Shanghai”, Kitco, 10 September 2026. Artikel asli membahas perbedaan harga perak Shanghai dengan pasar Barat, struktur pajak China, arus ekspor-impor, serta kondisi persediaan perak di Shanghai.
Sumber data dan referensi: Kitco dan informasi resmi EmasDigital.ID.